Kamis, 27 Desember 2018

377 . APAKAH SUJUD SAHWI ITU ? BAGAIMANAKAH CARANYA ?


Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Menurut bahasa kata sahwi adalah lafazh-lafazh yang bermakna sama. Yaitu, lalainya hati dari perkara yang ma’lum (diketahui).

Sujud sahwi dapat diartikan sebagai sujud yang dikerjakan di akhir maupun setelah selesai shalat .

Dengan melaksanakan sujud sahwi itu maksudnya adalah  untuk menutupi cacat dalam shalat karena ragu, lupa atau lalai dengan gerakan, bacaan maupun rukun-rukun dalam shalat .

Selain dari itu sujud sahwi juga dilakukan adalah sebagai upaya penghinaan terhadap syaitan.

Rasulullah Rasulullah saw bersabda,

“Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan, dan ambilah yang yakin. Kemudian sujudlah dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia shalat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Lalu jika ternyata shalatnya memang empat rakaat, maka sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan.”

(HR. Muslim no. 571)

Terdapat dua cara dalam mengerjakan sujud sahwi, yaitu sujud sahwi yang dikerjakan di akhir shalat atau sebelum salam dan sujud sahwi yang dikerjakan setelah selesai shalat. 

Rinciannya adalah sebagai berikut  ,
Sujud sahwi yang dikerjakan di akhir shalat atau sebelum salam, dengan sebab-sebab sebagai berikut :

1.Lebih (dalam melakukan rukun atau wajib) shalat, seperti kelebihan rakaat, ruku dan sujud.
Kemudian ingat disaat melakukan kelebihan tersebut. Maka ia wajib mengulurkan perbuatan lebih tersebut dan sujud sahwi sebelum salam.

2. Lupa melakukan tahiyyat awal yaitu jika tidak ingat kecuali disaat telah berdiri secara sempurna, maka pada keadaan ini ia harus melanjutkan shalat nyata itu dan kembali duduk untuk tahiyyat, dan nanti sujud sahwi sebelum salam.

3. Adapun jika ia ingat sebelum sempurna berdiri, maka ia harus kembali dan duduk untuk tasyahhud (tahiyyat) dan menyempurnakan shalat dan sujud sahwi sebelum salam.

4. Dan hal yang harus diingat adalah, jika ia ingat saat kedua pahanya belum terangkat dari betisnya, maka ia harus kembali duduk, lalu bertasyahhud dan menyempurnakan (meneruskan) shalatnya tanpa sujud sahwi.

5. Ketinggalan rukun shalat: Jika ketinggalan salah satu rukun shalat selain takbiratul ihram karena lupa, maka jika sudah sampai pada gerakan itu di raka’at berikutnya, maka raka’at yang tertinggal salah satu rukunnya itu tidak dihitung, dan rakaat yang sesudahnya sebagai gantinya.

6. Dan jika belum sampai pada gerakan yang sama di raka’at berikutnya, maka ia wajib kembali ketempat rukun yang tertinggal lalu menunaikannya dan melanjutkan rukun sesudahnya. Dalam kedua hal ini wajib sujud sahwi sebelum salam.

7. Terjadi keraguan di dalam shalat, apakah shalatnya sempurna atau lebih rakaatnya atau kurang, tanpa ada kepastian (tarjih).
Maka jika tidak ada kepastian dalam keraguannya, maka ia menetapkan yang telah diyakini, yaitu yang lebih sedikit (kurang raka’at), lalu menyempurnakannya, kemudian sujud sahwi, lalu salam.

Apabila seseorang baru ingat kekurangan jumlah dalam rukun shalat setelah mengucapkan salam, maka ia boleh melakukan sujud sahwi setelah salam kemudian sujud kembali.

Wallahu Ta'ala A'la Wa A'lam Bis-Shawab.

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh .

Rabu, 26 Desember 2018

376 . APAKAH HABLUM MINALLAH ITU ?


Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Hablum minallah menurut bahasa berarti hubungan dengan Allah SWT. Namun dalam pengertian syariah makna hablum minallah sebagaimana yang dijelaskan di dalam tafsir At-Thabari, Al-Baghawi, dan tafsir Ibnu Katsir adalah

“Perjanjian dari Allah.Maksudnya adalah masuk Islam atau beriman dengan Islam sebagai jaminan keselamatan bagi mereka di dunia dan di akhirat” 

Sehingga dapat kita pahami bahwa untuk membangun hubungan kita kepada Allah, kita mempunyai kewajiban untuk menunaikan hak-hak Allah, dan apakah hak-hak Allah SWT itu  ?

Hak-hak Allah SWT ialah mentauhidkan dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain serta menjalankan syariat Allah SWT. Misalnya   : sholat, puasa dan sebagainya.

Kelak di akhirat Allah tidak menanyakan kita keturunan siapa, punya gelar apa dan berapa banyak gelar yang sudah didapat , apa jabatan kita, seberapa banyak harta kita.
Semua itu tidak akan ditanyakan oleh Allah kepada kita. Lalu apa yang ditanyakan Allah kepada kita ?

Apa yang telah kita perbuat selama di dunia. Kalau sudah banyak yang dikerjakan , lalu mana amal untuk akhiratnya ?

Bagaimanakah ketakwaan kita terhadap Allah ? Bagaimanakah keimanan kita terhadap Allah ?

Walau di dunia sudah melakukan berbagai macam ketakwaan dan keimanan yang sungguh – sungguh, lalu setelah berada di akhirat tidak ada amal sama sekali.

Artinya kita telah salah niat , karena Allah swt hanya melihat niat yang ada di dalam hati kita .

Semakin bersih niat kita karena Allah, maka kualitas amal kita akan semakin sempurna .
Lalu harta kita akan ditanya dengan cara apa kita memperolehnya, cara halal ataukah cara haram ?   

Dan bagaimanakah cara mengeluarkan harta tersebut apakah untuk  hal – hal yang disukai oleh Allah , ataukag yang dibenci oleh Allah  ?

Semoga saja setelah membaca urain ini mata hati kita menjadi terbuka setelah selama ini sudah tertutup. Yang tentunya atas seizin Allah swt . Insya Allah .

Semoga uraian ini  bermanfaat untuk kita semua. Insya Allah . Aaaaamiin.

Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

375 . KEBURUKAN BANYAK HARTA


Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Wahai saudaraku semua manusia menginginkan banyak harta sehingga berusaha sekeras mungkin untuk mengumpulkan harta.

Namun  apa yang terjadi setelah banyak harta ?  Muncullah berbagai macam penyakit diantaranya  keluh kesah , kikir , bakhil , ego , sombong , menyepelekan si miskin dll .

Lalu bagaimana denga diri kita ? Bukankah kalau kita tidak memiliki harta kita sering berkeluh kesah ?

Sebaliknya, kalau kita memiliki banyak harta kita sering lebih cenderung untuk kikir.

Lalu bagaimana caranya agar sifat bawaan kita tersebut dapat kita hindari  ?
Allah SWT menyebutkan paling tidak ada dua jalan,

Pertama, mengerjakan sembahyang (hablum minallah) secara kontinyu.
Kedua, menyadari bahwa dalam harta yang kita miliki terkandung bagian tertentu untuk fakir miskin (hablum minannas).

Di dalam Al-Quran Allah SWT berfirman

وَاعْبُدُواْاللَّهَوَلاَتُشْرِكُواْبِهِشَيْئًاوَبِالْوَالِدَيْنِإِحْسَانًاوَبِذِيالْقُرْبَىوَالْيَتَامَىوَالْمَسَاكِينِوَالْجَارِذِيالْقُرْبَىوَالْجَارِالْجُنُبِوَالصَّاحِبِبِالجَنبِوَابْنِالسَّبِيلِوَمَامَلَكَتْأَيْمَانُكُمْإِنَّاللَّهَلاَيُحِبُّمَنكَانَمُخْتَالاًفَخُورًا

Yang artinya  adalah  ,

“Sembahlah Allah SWT dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak,
karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang
dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan
hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang
yang sombong dan membangga-banggakan diri”

(QS. An-Nisa: 36)

Ayat tersebut mengandung dua bentuk akhlak, yaitu akhlak kepada Allah SWT (hablum minallah) yang ditunjukkan dengan perintah agar kita menjalin hubungan baik kepada Allah SWT dengan cara tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain.

Akhlak terhadap sesama manusia (hablum minannas) yang ditunjukkan dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, orang yang dalam perjalanan dan hamba sahaya.
 
Selanjutnya Allah SWT menutup ayat di atas dengan kalimat:

“Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”.

Dengan maksud agar kita tidak sombong kepada orang tua, karena ada saat dimana kita juga pasti akan menjadi tua.

Jangan sombong kepada anak-anak yatim karena ada saat kita juga akan menjadi yatim.

Jangan sombong kepada orang miskin karena ada saat kita juga akan menjadi miskin secara tiba-tiba.

Jangan sombong kepada tetangga karena merekalah orang yang pertama memberikan pertolongan kepada kita saat kita mengalami kesulitan.

Jangan sombong kepada teman karena kita sangat membutuhkannya.

Jangan sombong kepada musaffir karena ada saat dimana kitapun akan menjadi musafir dan

Jangan sombong kepada pembantu rumah tangga karena mereka besar bantuannya kepada kita meskipun tidak besar upah yang kita berikan.

Semoga uraian ini  bermanfaat untuk kita semua. Insya Allah . Aaaaamiin.

Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

374 . HARAPAN TERBAIK HANYA BERTAWAKAL KEPADA ALLAH .


Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Wahai saudaraku masih banyak manusia yang kurang memahami kehidupan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari .

Hal ini wajar karena sebagian besar sudah teracuni oleh makanan yang diperoleh dengan cara yang haram.

Yang penting tujuan pribadinya tercapai, masalah halal dan haram itu urutan terakhir. Yang penting diri merasa senang dan puas.

Mereka tidak memikirkan bahwa kesenangan yang dinikmatinya itu telah mengorbankan banyak orang .

Ibaratnya biarlah diri bisa tertawa bebas, senang walaupun kedua kakinya telah menginjak banyak kepala orang lain .

Wahai saudaraku didalam kehidupan kita, tentu saja kita harus berusaha keras untuk meraih sesuatu, untuk mencapai kesuksesan  .

Namun pada akhirnya, kepada Allahlah kita serahkan keputusannya. Disinilah perbedaan orang kafir dengan orang yang beriman. 
 
Seorang kafir berusaha maksimal dan menggantungkan harapannya sepenuhnya pada usahanya .

Sedangkan orang mukmin juga berusah dengan maksimal, tapi hanya menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Pembatal syahadat bisa terjadi karena tidak mengakui bahwa semua nikmat baik lahir maupun batin berasal dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman yaitu ,

أَلَمْتَرَوْاأَنَّاللَّهَسَخَّرَلَكُممَّافِيالسَّمَاوَاتِوَمَافِيالأَرْضِوَأَسْبَغَعَلَيْكُمْنِعَمَهُظَاهِرَةًوَبَاطِنَةًوَمِنَالنَّاسِمَنيُجَادِلُفِياللَّهِبِغَيْرِعِلْمٍوَلاهُدًىوَلاكِتَابٍمُّنِيرٍ

Yang artinya adalah  ,

“Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah SWT Telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah
tentang (keesaan) Allah SWT tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” 

QS. Luqman [ 31] : 20  .

Wahai saudaraku setiap muslim wajib mengakui bahwa setiap nikmat yang ia peroleh, yang meliputinya baik itu nikmat fisik seperti tubuh yang sehat, harta yang cukup 

Anak serta istri yang menyejukan pandangan dan sejenisnya adalah nikmat dari Allah, merupakan pinjaman dari Allah SWT .

Begitu juga nikmat yang abstrak seperti Iman, Islam, rasa bahagia, kepandaian dan sejenisnya hanyalah dari Allah SWT.

Seorang muslim yang sempurna syahadatnya, tidak boleh menganggap bahwa semua yang ia miliki ia peroleh karena usahanya sendiri. 

Karena bagaimanapun manusia berusaha, Allah-lah yang memutuskan bagaiamana akhirnya.

Dalam konteks inilah Allah SWT membinasakan Qarun yang menyombongkan harta yang ia anggap hasil dari ilmunya. 

Seperti diabadikan oleh Al Quran ;

قَالَإِنَّمَاأُوتِيتُهُعَلَىعِلْمٍعِندِي

Yang artinya adalah  ,

“Karun berkata: “Sesungguhnya Aku Hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”.

QS. Al-Qashas  : 78 .

Begitulah Qarun menjadi kafir Karena menganggap nikmat yang ia peroleh adalah hasil dari kemampuannya tanpa mengakui Allah SWT sebagai pemberi segalanya.

Semoga uraian ini  bermanfaat untuk kita semua. Insya Allah . Aaaaamiin.

Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

461 . BAGI YANG ISLAM. TAK DIBACA SAYANG.

Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaath. Bismillaahirrahmaanirrahiim. Selepas Malaikat Israfil meniup sangkakala (bentuknya ...